Situs Percandian Dieng
Dalam konsep agama Hindu terdapat suatu anggapan dan keyakinan, bahwa tempat yang tinggi dan gunung merupakan tempat bersemayam para dewa dan karena itu dianggap juga sebagai tempat yang suci.


Jadi bila kita sekarang menyaksikan candi-candi Dieng dibangun di dataran tinggi, di gunung, maka pembangunan candi-candi tersebut di sana, memang telah memenuhi unsur keyakinan yang terkandung dalam konsep itu. Bahwa candi adalah tempat suci bagi persemayaman para dewa.
Bangunan candi adalah replika (tiruan) dari gunung Mahameru di India yang dianggap suci oleh umat Hindu sebagai tempat tinggal para dewa.
di samping itu bangunan candi merupakan juga replika dari alam semesta berdasarkan konsep kosmologi yang dianut umat Hindu,.
Kaki candi melambangkan tingkatan alam bawah, alam dimana manusia bertempat tinggal dan disebut Bhurioka.
Tubuh Candi melambangkan tingkat Bhuwarloka, yakni dunia tengah, tempat tinggal roh-roh orang mati.
Dan atap candi melambangkan “dunia atas” yang disebut Swarloka, tempat tinggal para dewa. (ibid)
Dari bukti arkeologis yang ditemukan dan yang ada di Dieng, seperti bangunan candi (sebagai bangunan sakral), bangunan profan (yaitu bangunan pemukiman) dan temuan-temuan lepas lainnya, misalnya arca, kereweng, keramik, prasasti dan benda-benda lain yang berhubungan dengan keagamaan dapat dipakai sebagai petunjuk (indikator), bahwa Dieng merupakan tipe situs yang berfungsi sebagai tempat upacara juga sebagai tempat pemukiman.
Nama-nama candi Dieng yang amat dikenal dengan nama-nama Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembodro, Gatotkaca, Bima, dan Dwarawati itu, sesungguhnya pada awalnya bersifat anonim atau tidak bernama. penamaan barulah diberikan kemudian (entah oleh siapa) menurut nama-nama para tokoh dalam epos Mahabarata dan cerita Wayang.
0 Responses